Gadis dengan senyuman aneh ( Part II )

Hari kedelapan MOS SMA 48. Hari ini adalah hari terakhir Masa Orientasi Siswa baru. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, acara penutupan MOS ini di mulai pada sore hari. Semua siswa baru dan senior sudah berkumpul di lapangan belakang sekolah. Beberapa petugas OSIS mengabsen mereka berdasarkan kelompok masing-masing. Kemudian para senior di bagi ke dalam kelompok siswa baru tersebut, mereka membaur, hal ini di maksudkan untuk menghilangkan rasa canggung dan takut yang mungkin terbentuk selama MOS berjalan.
Tetapi Billy belum juga membaur, dia masih mencari-cari kelompok si Gajah atau yang sekarang di ketahui nama panggilanya Yupi. Tak bisa di pungkiri kalau sekarang dia rindu dengan candaan atau bahkan senyuman aneh Yupi.
“Oi! kak Billy. Sini! Pasti cari Yupi ya? Sini dong.” Yupi berteriak manja.
Sontak para murid yang mendengar teriakan Yupi menengok kaget. Mereka tentu heran karna selama MOS Billy dan Yupi sering terlibat perselisihan. Yupi yang kemarin sengaja memancing-mancing amarah Billy sekarang tak canggung-canggung memanggil dan mengajak Billy bergabung dengan kelompoknya. Bahkan Billy yang pernah mendorong keras Yupi pun menanggapi ajakan Yupi dengan senyuman manis. Kemudian Billy berjalan ke arah kelompok Yupi dan duduk di sampingnya. Setelah itu mereka berdua terlibat pecakapan singkat tapi cukup jelas untuk menunjukan keakraban mereka. Anak-anak perempuan yang menaruh perasaan kepada Billy hanya tersenyum kecut, sedangkan yang lain masih terheran-heran dan mencoba menerka bagaimana mereka bisa seakrab ini.

Merasa sedang menjadi pusat perhatian Billy akhirnya hanya garuk-garuk kepala salah tingkah. Sedangkan Yupi diam-diam melirik ke arah Billy dengan tatapan yang tajam dan aneh, kemudian tersungging senyuman di wajahnya, senyuman paling aneh daripada yang biasa di perlihatkanya. Senyuman yang belum pernah di sunggingkan sebelumnya, benar-benar aneh, sangat aneh.

Senyuman Cindy Aulia.


***

Langit semakin menggelap, cahaya bulan purnama yang seharusnya menerangi area lapangan SMA N 48 tertutup awan mendung. Tetapi itu tidak menyurutkan sama sekali tawa dan canda para murid SMA 48 pada acara puncak penutupan MOS, yaitu acara api unggun. Acara ini di isi dengan berbagi penampilan dari masing-masing kelompok, seperti drama singkat, pembacaan puisi dan menyanyi. Kebanyakan para peserta memilih menyanyi dengan di iringi gitar akustik dan drum box seperti kelompok yang terakhir ini. Mereka menyanyikan lagu Nagai Hikari yang berlirik romantis. Suasananya benar-benar syahdu, begitu dingin dan intim. Billy memanfaatkan momen ini untuk mendekati Yupi. Mereka terlibat pembicaraan agak lama. Kemudian tiba-tiba Yupi mengisyaratkan Billy untuk mendekatkan kupingnya, Billypun mendekatkan kupingnya.
“Kak, Yupi pengen ngomong sesuatu sama kak Billy. Sesuatu yang penting sekali. Tapi bukan di sini tempatnya, Yupi tunggu di belakang sekolah ya.” bisik Yupi lembut.
Setelah berbisik demikian Yupi tiba-tiba mencium pipinya, kemudian tanpa berkata lagi ia lari kecil kebelakang sekolah. Kejadianya begitu singkat, orang-orang di sekitarnya hampir tak menyadari karna suasana yang remang-remang dan fokus mereka tersita pada penampilan kelompok terakhir. Perasaan Billy campur aduk, antara senang, tak habis pikir dan juga penasaran dengan apa yang akan di katakan Yupi.
Ciuman tadi menunjukan bahwa ternyata Yupi mempunyai perasaan yang serupa denganya. Kunjungan Billy ke rumah Yupi tempo hari rupanya telah menumbuhkan bibit-bibit cinta. Si anak misterius yang baru saja di kenalnya itu tanpa di sadari telah menarik hatinya. Anehnya Billy mulai tertarik kepadanya dalam jangka waktu yang singkat. Padahal selama ini hati Billy terkenal tidak mudah goyah oleh wanita, banyak perempuan yang lebih cantik dari Yupi menaruh hati padanya. Tapi selain Yupi tak menarik baginya, perempuan-perempuan yang selama ini mengejar cinta Billy hanyalah sosok yang membosankan di matanya. Lain dengan Yupi, perempuan dengan paras menggemaskan dan tubuh mungil itu berbeda dari perempuan biasa yang di kenalnya.
Akhirnya setelah beberapa saat Billy termenung ia beranjak dari tempat duduknya, walaupun acara api unggun belum selesai tapi dia penasaran dengan apa yang akan di sampaikan Yupi nanti.

****

Acara api unggun selesai pada pukul sembilan malam, para panitia memang menyiapkan acara ini agar selesai secepat mungkin. Mereka mempertimbangan agar para murid tidak terlalu larut mengadakan acara di luar gedung sekolah sehingga semuanya bisa di kontrol.
Acara selanjutnya adalah pemutaran documentary acara MOS dan renungan malam yang dilakukan di Aula sekolah. Tapi itu di mulai tepat pukul 23.00. Sebelumnya para siswa berkumpul di kantin untuk sekedar memesan minuman dan makanan ringan sekaligus melepas penat. Khusus hari ini memang kantin sekolah buka sampai tengah malam. Anak-anak bercengkrama satu sama lain.
Tak terasa acara pemutaran dokumentari MOS akan di mulai, selain api unggun acara ini juga yang paling di tunggu-tunggu oleh semua murid SMA 48. Dokumentari biasanya berisi momen-momen unik dan lucu yang berhasil di kumpulkan oleh tim dokumentasi. Semua murid sudah berkumpul di Aula sekolah, kecuali Billy dan Yupi. Entah apa yang sedang dilakukan oleh dua insan yang sedang mabuk asmara di belakang sekolah hingga tengah malam begini. Beruntung tidak ada yang menyadari ketidakhadiran mereka, para murid lebih fokus untuk menonton.
Riuh rendah suara murid-murid SMA 48 mengiringi pemutaran video kenangan mereka. Hukuman yang paling kurang kerjaan seperti memindahkan air satu ember ke ember lain dengan satu sendok sampai ulah iseng kakak kelas yang menggodai siswi barupun tak luput dari dokumentasi. Adegan Billy ketika memberi botol mineral kepada Yupi di lapangan belakang sekolah juga tak luput dari kamera tim dokumentasi, video itu di beri efek slow motion, kemudian di beri backsound lagu romantis yang berjudul Pelangi di Matamu milik Jamrud sambil di zoom closeup ke wajah Yupi. Reaksi penonton bermacam-macam, yang laki-laki berteriak kegirangan sedangkan yang perempuan kebanyakan menyoraki kesal. Seandainya Billy menyaksikan adegan ini tentu dia akan terkesan, sayangnya sampai sekarang dia masih belum kembali dari belakang sekolah. Entah apa yang sedang dilakukanya.
Tepuk tangan membahana ketika pemutaran video selesai. Momen istimewa yang berhasil di abadikan di tambah dengan proses editing yang matang dari anak ekstra kurikuler PH benar-benar membuat semua siswa terkesan.
Sekarang adalah saatnya pemutaran video tambahan yang di pesan oleh Yupi. Beberapa saat sebelum acara selesai dia menemui panitia di belakang layar sambil menyerahkan memory handicam dengan tergesa-gesa. Kata Yupi ada pesan khusus darinya untuk semua anak-anak SMA 48. Para panitia pun tak keberatan. Lampu di Aula sekolah kembali di matikan. Lalu sinar dari proyektor menyorot layar. Anak-anak kembali diam menantikan video apa yang akan segera diputar.
Video di awali dengan senyuman aneh Yupi, bibirnya membentuk senyuman tetapi ekspresi wajahnya tetap datar. Tatapan matanya kosong, lagipula dia seperti tidak mempunyai otot untuk menarik bagian pipi dan dahinya sehingga lebih mirip dengan cengiran sinis daripada sebuah senyuman. Lalu kamera bergoyang-goyang kekiri kekanan, tampaknya Yupi berusaha meletakan kamera Handicamnya ke tempat yang lebih tinggi agar angle kamera lebih luas. Dari situ tampak latar pengambilan video, yaitu toilet khusus murid pria, semua semakin penasaran apa yang sebenarnya ingin di lakukan perempuan aneh itu.
Adegan selanjutnya sungguh tidak di duga, Yupi tampak keluar dari toilet pria dan kembali masuk dengan menyeret tubuh seseorang dengan paksa. Setelah itu dia mengeluarkan sebuah tali lalu di ikatkanya pada leher orang tersebut dan ujung tali yang lain di kaitkanya dengan ventilasi wc, kemudian dengan susah payah Yupi menarik tali sehingga pelan-pelan tubuh itu terangkat sampai posisi berdiri. Tampaklah muka Billy sang ketua OSIS tengah tergantung di pintu WC, mukanya pucat pasi, matanya terbelalak, bagian dahinya mengalirkan darah segar, para murid berteriak histeris. Mereka tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Suasana menjadi kacau, para guru pendampingpun ketakutan melihat Billy telah tergantung di pintu toilet dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Video terus berlanjut, setelah itu kelakuan Yupi benar-benar di luar batas. Ia mengeluarkan pisau besar yang biasa di gunakan untuk memotong daging dari dalam tasnya, kemudian tanpa berkedip dia menguliti dan memotong-motong tubuh Billy layaknya jagal yang sedang menguliti dan memotong kambing. Kupingnya di iris-iris, hidungnya di cacah-cacah, dadanya ia koyak, organ pencernaan seperti usus dan lambung ia keluarkan dengan tangan kosong dari dalam perut, kaki dan tangan serta semua anggota badan yang bisa di potong ia potong. Semua melihat dengan perasaan ngeri yang sangat, darah berceceran di lantai dan dinding toilet. Sebagian murid perempuan sudah lari keluar tak sanggup melihat video pembantaian tersebut, lainya ada yang terkencing-kencing dan diam ketakutan melihat keganasan Yupi bak setan yang sedang kerasukan iblis. Adegan mutilasi yang biasanya hanya mereka lihat di film-film Holywood kini mereka saksikan secara nyata, benar-benar gila. Semua menjerit, suasana menjadi gaduh. Tidak terlukiskan bagaimana rasanya melihat orang yang kita kenal di bunuh bagai hewan begitu. Entah apa motif Yupi membunuh seseorang yang sedang menyukainya, yang jelas malam yang seharusnya berakhir dengan bahagia itu berubah menjadi malam mencekam dan di liputi kengerian. Para guru meminta pemutaran video di hentikan. Kemudian mereka berinisiatif mengecek keadaan toilet pria, yang lain menelfon kantor polisi dan sebagian ada yang mencari keberadaan Yupi.

***

Pagi hari di SMA 48 terlihat ramai dengan polisi, para wartawan dan beberapa tim forensik. Di luar pagar juga tampak kerumunan warga yang penasaran menanti hasil penyelidikan. Akhirnya setelah lewat tiga jam, polisi memberi keterangan hasil sementara lewat konferensi pers darurat yang di adakan di Aula SMA 48.
“Ada beberapa hal yang janggal dan tidak pernah terjadi dalam kasus-kasus pembunuhan biasa tapi terjadi dalam kasus ini” polisi mengawali konferensi pers dengan beberapa hal yang tampaknya penting dalam kasus ini.
Para wartawan antusias menyimak. Cahaya dari kamera berkilat bergantian, berita ini akan menjadi topik nasional. Mereka tak mau satu momenpun terlewatkan.
“Pertama adalah tersangka terang-terangan menunjukan identitasnya. Atas perlakuan tersangka tersebut kami selaku pihak polisi merasa seperti di coreng mukanya. Tindakan ini seakan menjadi tantangan terbuka bagi kita untuk segera menangkap pelaku. Kami berjanji akan segera menangkap tersangka secepat mungkin.” kata polisi meluap-luap.
“Kemudian yang kedua tidak di temukanya jasad korban. Ini tentu mengundang tanda tanya. Jika ini pembunuhan biasa tentu akan lebih aman pelaku meninggalkan jasad di TKP atau membuangnya di sungai. Karna itu pihak polisi menduga ini bukan pembunuhan biasa, ada kemungkinan tersangka adalah anak di bawah umur yang ikut terlibat dalam sindikat penjual organ tubuh manusia sebagaimana sedang marak tejadi akhir-akhir ini.”
“Terakhir yang paling mengherankan bagi kami adalah jejak tersangka benar-benar tidak terdeteksi. Padahal jarak waktu antara terakhir kali tersangka terlihat yaitu ketika menyerahkan kamera handicam dengan di mulainya proses pencarian hanya kurang dari 30 menit. Dalam rentang waktu tersebut secara hitungan tersangka tidak akan mungkin berada pada jarak lebih dari 40 kilometer jika dia kabur menggunakan kendaraan. Atau jika dia berlari keberadaanya tidak akan lebih dari radius 10 kilometer. Seharusnya dengan radius jarak yang relarif pendek tersebut polisi bisa segera menangkapnya, tapi kenyataan berkata lain, tersangka menghilang bak di telan bumi. ”
Ketika wartawan sibuk merekam dan mengajukan pertanyaan tampak di pintu Aula sesosok gadis kecil mendengarkan semua itu dengan senyum sinis. Kemudian dia pergi dengan senyuman lebar penuh kemenangan sambil melihat sisa-sisa darah di bagian kuku tanganya yang masih tampak jelas.
“Dasar tolol, polisi bodoh. Bahkan di acara penyelidikan mereka tidak menyertakan anjing pelacak atau sejenisnya sehingga darah Billy ini tidak tercium. Hahaha.” gadis itu berkata kepada dirinya sendiri sambil tertawa.
Tawa polos yang penuh keceriaan khas anak kecil sedang terlukis di raut mukanya. Setelah itu dia menyeringai dan pergi sambil cekikikan.

Tiga jam kemudian gadis kecil itu sedang duduk termenung di kursi bus. Ia menaiki salah satu bus malam antar provinsi Jawa-Sumatra untuk pergi ke suatu tempat. Ia melamun sambil menyandarkan kepalanya di bantal bus yang telah di sediakan. Sesekali melegakan diri dengan menggerak-gerakan otot wajah dan pipinya. Dia tentu lelah, sudah hampir dua minggu ia mengenakan topeng. Topeng yang selama ini menutupi senyumanya sehingga membuatnya tampak aneh. Topeng itu juga sekaligus untuk menyembunyikan identitasnya sebagai psikopat sampai sekarang menjadi buronan polisi. Topeng itu berbahan dasar kulit wajah manusia hasil buatan dokter ahli bedah dan operasi plastik yang mengaku sebagai ayahnya selama ini. Ia yang menaungi dan memfasilitasi hobi gadis kecil tersebut. Hobi mengerikan yang telah merengut nyawa belasan orang. Hobi ini berawal dari kekacauan keluarga yang terjadi pada masa kecilnya. Kisah suram masa lalu yang membekas begitu dalam di hati gadis kecil ini.

***

Cindy Aulia nama kecilnya, saat beranjak masa kecilnya sehari-hari dia terbiasa menyaksikan penganiayaan yang berujung pada kematian ibunya. Penganiayaan itu di lakukan oleh bapak tiri yang merupakan seorang pekerja keras dan tempramental. Setiap hari bapak tirinya melampiaskan kesuntukan seharian berkerja dengan kebiasaan yang buruk dan cenderung aneh. Bagaimana tidak, dia melampiaskan rasa capek dengan melakukan hubungan badan kemudian menyiksa ibunya sampai lemas. Semua itu dilihat Cindy Aulia kecil dengan mata telanjang, tanpa tedeng aling-aling apapun mata kecilnya yang masih jernih menyaksikan adegan tersebut berulang-ulang hampir setiap hari. Hingga suatu ketika ibunya mengalami demam tinggi, malam itu adalah malam terakhir ibunya di siksa. Malam itu ibunya menolak untuk berhubungan badan karna tubuhnya sangat lemah oleh demam, ayah tirinya bukan memberi ibunya obat tapi malah merasa kesal. Karna dalam keadaan mabuk dia tetap memaksa dan tidak mau tahu, ibunya melawan sebisanya. Dia menendang perut ayah tirinya sekeras mungkin, selanjutnya bisa di tebak, ayah tirinya kalap sampai membenturkan kepala ibunya ke tembok beberapa kali sehingga mengalami gegar otak parah yang mengakibatkanya meninggal seketika. Kemudian tanpa menyesal dia tiduri mayat ibunya itu layaknya seseorang yang masih hidup. Cindy Aulia kecil menangis hebat, dia tidak begitu paham apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lalu entah setan darimana yang kemudian mendorong Cindy Aulia untuk mengambil ganjalan dibawah kaki lemari yang tepat berada di belakang ranjang ayah tirinya, kemudian karna kehilangan keseimbangan lemari itupun jatuh menimpa ayah tiri dan mayat ibunya sekaligus. Tapi celakanya salah satu sudut lemari yang runcing tepat mengenai bagian belakang kepala ayahnya, ukuranya cukup besar untuk membuat ayah tirinya berdarah-darah. Ia mengaduh kesakitan, dengan keadaan setengah sadar ia mengangkat lemari yang menimpanya. Walaupun sebenarnya hampir pingsan tapi rasa marahnya telah melawan rasa sakit itu. Dia rupanya sadar bahwa Cindy aulia yang sengaja menjatuhkan lemari itu. Kemudian sambil menutup luka penuh darah di belakang kepalanya ia berteriak,
“Cindy! Kemari anak setan! Apa yang kamu lakukan!”
Cindy mendekat, namun dia tidak bodoh, otaknya merekam adegan yang selama ini di lihatnya dengan baik. Ia mendekat sambil membawa pisau dapur untuk berjaga-jaga, ia belajar bagaimana cara untuk menjaga diri.
“Plak!” suara tempelengan ayah tirinya begitu keras.
Pipi Cindy Aulia serasa panas terbakar, namun dia telah belajar untuk tidak mengaduh sakit. Dia belajar bagaimana cara yang lebih baik untuk membalaskan rasa sakitnya. Pelan tapi pasti Cindy Aulia mendekat. Ayah tirinya kembali mengangkat tangan bersiap memukul, tapi dia kalah cepat, Cindy Aulia terlebih dahulu menghujamkan ujung pisau yang di genggamnya tadi ke dahi ayah tirinya. Perasaan dendam yang di pendam jiwa kecil Cindy Aulia selama ini meledak, tak terlukiskan bagaimana anak sekecil itu kemudian menghujaman-hujamkan pisau di setiap inci wajah ayahnya, rupanya Cindy Aulia lebih kalap dari ayah tirinya tadi. Ia menusukan pisau dalam-dalam ke wajah ayahnya, kemudian mencongkel matanya. Ayah tirinya mati mengenaskan, mukanya tak berbentuk. Darah berceceran di mana-mana, itulah kali pertamanya Ciny Aulia melakukan pembunuhan. Semenjak kejadian itu dia mulai suka bau anyir darah dan sayatan pisau. Semenjak kejadian itu tiap kali dia membunuh tidak ada rasa penyesalan apapun. Dia merasa telah membantu korban yang dibunuhnya beristirahat di alam barzah dengan tenang.
Satu tahun setelah kejadian itu Cindy Aulia di bawa ke panti rehabilitasi khusus untuk menangani anak-anak yang mengalami gangguan mental berat. Cindy Aulia bebas dari penjara karna masih di bawah umur. Namun bau busuk tidak akan mudah di sembunyikan begitu saja, keberadaan Cindy Aulia tercium sebuah organisasi penjual organ tubuh manusia. Belum genap setengah tahun keberadaan Cindy di panti rehabilitasi, organisasi tersebut mengadopsinya. Tentu saja setelah menyamar menjadi sebuah keluarga yang mendambakan anak. Hari itu seorang bapak-bapak datang ke panti sambil mengamati Cindy aulia, kemudian mendekatinya sambil berkata halus dan membujuk agar mau tinggal bersama. Cindy si gadis kecil yang masih polos mau saja karna di imingi makanan enak dan mainan kesukaanya, dia tidak tahu bahwa bapak-bapak itu adalah anggota organisasi hitam yang tertarik dengan bakat membunuhnya. Cindy Aulia tidak tahu bahwa dia akan di jerumuskan pada sebuah hobi yang di kemudian hari tidak bisa di cegah oleh nuraninya. Ia akan di didik untuk membunuh dan memotong-motong anggota badan manusia layaknya sedang bermain boneka.

***

Sekarang Cindy Aulia masih di perjalanan, ia akan menuju ke kota Medan salah satu markas rahasia organisasi hitam yang menaunginya. Dia masih saja merenung, sesekali melihat bekas darah pada kukunya sambil menyeringai aneh. Darah Billy yang masih menempel di tanganya sengaja ia jaga supaya menjadi kenang-kenangan. Bagaimanapun sebagai seorang perempuan dia mencintai Billy. Cindy Aulia agak menyesal, sebenarnya tidak ada perintah dari organisasinya untuk mencari mangsa sebagai bahan jualan mereka. Pembunuhan terhadap Billy terjadi begitu saja, ia hanya khilaf karna pernah di sakiti secara fisik oleh Billy laki-laki yang di cintainya, kemudian pengalaman mengajarkanya bagaimana cara membalas seorang pria yang berani menyakiti fisik perempuan. Ia belajar dari kematian ibunya. Ia menguliti dan memotong-motong tubuh orang yang di cintainya tanpa merasa dosa.
Sekarang bus yang di tumpanginya melewati kabupaten Tulang Bawang, salah satu kabupaten terbesar di provinsi Lampung yang di lewati setiap bus malam antar pulau Jawa-Sumatra. Tak lama kemudian bus berhenti di salah satu rumah makan padang agar penumpangnya bisa beristirahat. Cindy kemudian langsung menuju ke salah satu meja di rumah makan tersebut, duduk berjam-jam di kursi bus membuat tulang ekornya pegal. Kalau bukan untuk menjaga agar barang bawaanya tetap aman dia lebih memilih menggunakan pesawat untuk sampai ke Medan daripada bus. Tapi menggunakan pesawat sangat riskan, barang bawaanya kemungkinan besar ketahuan saat melewati petugas keamanan bandara. Barang yang di maksud tersebut adalah organ tubuh Billy. Organ-organya sudah di pisahkanya satu sama lain, kemudian ia campur dengan daging sapi dan di bekukan dalam balok es. Cara itu terbukti aman, pengamatan terhadap barang bawaan penumpang di bus sangat longgar. Petugas hanya menimbang dan bertanya apa yang dia bawa kemudian memasukanya dalam bagasi bus. Di pelabuhan Merak-Beukahuni pun malah tidak di periksa sama sekali, petugas pelabuhan hanya memeriksa data penumpang seperlunya.
Tak terasa makanan pesanan sudah di antar, Cindy Aulia memakan nasi ayam dengan bumbu khas padang favoritnya dengan pelan. Ia mengunyah sambil melihat-lihat para penumpang bus lain yang ikut makan di dekat mejanya. Kemudian matanya tertuju pada koran yang baru saja terbit pagi tadi. “Cindy gadis manis si psikopat” headline koran itu tertulis besar-besar. Rupanya hasil pembunuhan kemarin masih menjadi topik hangat, bahkan ia melihat di berita TV negeri maupun swasta ramai menayangkan video pembantaianya dengan sedikit sensor. Namun Cindy merasa bosan membaca beritanya sendiri, ia kemudian membolak-balik koran sampai kemudian matanya tertarik dengan sebuah judul di akhir halaman koran. “Idol grup JKT48 kini sedang membuka pendaftaran audisi generasi kedua mereka”. Cindy kemudian membaca paragraf isinya baik-baik, dia merasa tertarik. Para member di idol grup tersebut ternyata sepantaran denganya, jumlahnya mencapai puluhan. Ia berimajinasi akan membaur dengan kenalan-kenalan baru dan menghabiskan waktu sebagai member idol grup tersebut.
” Ah seandainya.” gumanya pelan.
Ia bermimpi akan menggaet fans sebanyak mungkin kemudian membunuh mereka satu persatu, tentu menyenangkan jika ia bisa menyalurkan hobinya tanpa perlu repot-repot untuk mencari mangsa. Ini sekaligus perkerjaan yang bagus untuk organisasinya.
” Ah iya! Kalau kusampaikan beserta keuntungan yang kira-kira akan organisasi dapatkan dari setiap fans yang ku bunuh tentu mereka setuju. ” mata Cindy berbinar-binar.
Dia optimis, jika organisasi hitam yang menaunginya mendukung pasti akan mudah untuk lolos seleksi masuk ke idol grup tersebut. Organisasi hitam adalah organisasi besar, mulai dari meloby manajemen sampai melakukan riset untuk meloloskanya pasti akan di lakukan organisasi tersebut.
“Huahahahaha.” tiba-tiba Cindy tertawa cukup keras.
Orang-orang yang sedang asyik makan di sekitarnya menengok heran, namun Yupi cuek. Dia sangat senang karna menemukan sebuah ide cemerlang yang mungkin akan membuat organisasi atasanya kegirangan. Dia akan mendapatkan uang yang banyak jika misi ini di jalankanya dengan baik. Membunuh fansnya satu persatu tentu sangat mudah bagi seorang idola. Apalagi idol grup sekelas JKT48 memiliki fanbase super fanatik, bahkan ada fans yang berkategori penguntit layaknya yang dilakukan para paparazi di Amerika.
” Hmm, tapi rasa-rasanya misi kali ini aku tidak akan memakai topeng supaya ekspresiku bisa alami dan tidak menimbulkan kecurigaan. Oh ya, aku harus memikirkan sebuah nama baru untuk misiku kali ini ” Cindy Aulia berpikir keras.
” Cindy Selvia, Cindy Shopia, ah terlalu centil. ” ia memikirkan nama samaranya.
” Cindy Varel, Cindy Yuria, Cindy Yuvia. Eh, Cindy Yuvia! Cindy Yuvia nama yang bagus. Hahaha! ” Cindy melanjutkan tawanya.
Kemudian karna suasana hatinya sedang bagus dia memakan nasi ayam di depanya dengan lahap. Cindy Aulia benar-benar tidak sabar untuk mengatakan idenya itu, ia membayangkan akan membunuh fansnya satu persatu. Ia mengkhayal akan mencium bau anyir darah kesukaanya sesering yang ia mau, ia akan memotong-motong tubuh manusia sesukanya.
” Huahahaha! Perkenalkan nama saya Cindy Yuvia ” Ia berteriak lantang.
Semua pengunjung rumah makan itu menengok penuh keheranan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s