Puzzle-Puzzle Mimpiku

Kata orang mimpi hanyalah bunga tidur. Hanya suatu proses dari kerja otak yang terus menerus beraktivitas, ia tak peduli sekalipun jasad sedang beristirahat. Namun mimpi tak selalu cocok dianggap “hanya” jika berkali-kali mendatangi kita. Seperti mimpiku yang rutin datang dengan cerita yang sama akhir-akhir ini. Seseorang berpakaian compang-camping itu senantiasa hadir dimimpiku. Dia mendatangi rumahku yang tiba-tiba menjadi istana megah tak ada duanya, tak pernah ku lihat ada istana semegah itu. Di dalamnya ada suguhan daging dan buah-buahan yang terlihat begitu segar nan lezat. Lalu tanpa canggung sedikit pun, si compang-camping tadi melahap semuanya sampai habis, sedangkan aku hanya bisa melihat tanpa turut serta makan bersamanya. Parahnya, setelah selesai makan, dia selalu nyelonong masuk ke kamar tidur. Di situ ada kasur bertumpuk-tumpuk rapi, lengkap dengan istriku yang menjelma bak bidadari. Aku sampai pangling, hampir tak mengenali istriku yang berubah cantik jelita. Tetapi pemandangan elok itu sirna seketika, tiba-tiba pintu kamar tertutup. Sontak aku berlari berusaha membuka paksa, siapa yang sabar melihat istrinya di dalam kamar bersama seorang tamu pria yang tak tahu malu. Ku gedor dari luar sebisaku. Pada saat aku panik begini, biasanya mimpi berakhir. Benar-benar celaka, mimpi menjengkelkan itu terus berulang. Begitu terbangun, aku langsung mengecek yang tidur di sampingku. Syukurlah, walau tak secantik di dalam mimpi, yang penting istriku masih pulas terlelap di sisiku. Sungguh pun demikian, aku sebenarnya tetap menghawatirkan sesuatu. Tentang mimpi itu, aku yakin bukanlah sembarang mimpi. Bisa jadi suatu pertanda. Bukankah Gusti Allah memerintah Nabi Ibrahim menyembelih putranya Nabi Ismail lewat mimpi. Lalu pertanda apakah mimpiku ini? Ku lawan dinginnya malam, menyempatkan diri bertahajud, meminta kejelasan kepada Sang Sutradara mimpi.

­­Jika diibaratkan sebuah penyakit kanker, maka diriku sudah kritis menjelang stadium akhir, mimpiku itu sudah sangat mengganggu. Aku tak bisa lama-lama membiarkannya bergentayangan setiap malam. Sampai diriku hafal muka orang dengan pakaian compang-camping itu. Aku harus melakukan sesuatu.

” Coba mas, tanyakan pada guru-guru njenengan, baik yang di pesantren, atau pun sewaktu belajar di timur tengah dulu. ” suatu saat istriku memberikan solusi.

Usul istriku ada benarnya juga. Ku ingat-ingat satu persatu guruku, mencari sosok yang tepat untuk meminta tafsir atas mimpi itu. Lalu pilihanku jatuh kepada seorang Syech pembibing tasawuf sewaktu aku belajar di Tarim, Hadhramaut, kota seribu wali. Beliau masyhur sebagai wali kasab yang di anugerahi karomah untuk menerawang isi hati seseorang, serta beberapa keistemewaan lainnya. Segera ku hubungi temanku yang masih belajar di Hadhramaut. Aku memintanya untuk menyampaikan isi mimpiku kepada beliau. Setelah berhari-hari menanti, akhirnya ku dengar suara sumigrah temanku membawa kabar baik.

” Pesan beliau, kau haruslah sering-sering membaca surah Al Waqi’ah kawan. Selain itu, pada satu purnama ini, beliau memintamu untuk berziarah ke makam tanpa putus. ” katanya lewat telfon.

Demi mendengarnya, aku senang bercampur bingung. Rasanya tak ada kolerasi antara jawaban guruku dengan mimpi itu. Namun akan ku laksanakan apa kata beliau, walau tanpa tahu apa maksud tujuannya. Ada saatnya memang, untuk beberapa hal di dunia ini, kita perlu mengesampingkan akal.

“ Wafakihatim mimma yatakhoyyarun, walachmi thoirim mimmayasytahun. Wa chuurun ‘in. Kaamtsalillu’luil maknuun. Jazaam bima kanu ya’malun. Dan buah-buah apa pun yang mereka pilih. Dan daging burung apa pun yang mereka inginkan. Dan ada bidadari yang bermata indah laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan. “

Setelah beberapa hari menjalankan amalan guruku, membaca surah Al Waqi’ah, aku merasa ada petunjuk pada ayat-ayat tersebut. Pengilustrasian beberapa kesenangan surgawi yang terkandung di dalam ayat, yang salah satunya disediakan buah-buahan dan bidadari bagi penghuni surga, itulah mungkin titik terang dari mimpiku. Mimpiku tentang rumah megah, makanan lezat, serta istriku yang menjadi cantik bak bidadari, itu semua adalah gambaran dari surga. Puzzle-puzzle mimpiku kini mulai tersusun. Tekadku semakin bulat mencari potongan puzzle yang lain, puzzle pengungkap makna dari orang berpakaian compang-camping, orang yang ternyata merebut kenikmatan surga dariku. Maka inilah saatnya ku jalankan wanti-wanti guruku yang kedua, yaitu supaya berziarah kubur selama satu bulan penuh. Dan karna tak di tentukan harus menziarahi makam yang mana, maka ku pilih saja Pemakaman Umum di desaku. Dengan alasan lebih dekat, juga karna terdapat makam ibuku di sana. Aku putuskan setiap hari untuk menziarahinya. Sampai kemudian, rutinitas ziarahku telah dua minggu berjalan, tepat saat purnama terbentuk sempurna, aku menyadari suatu hal. Ada anak kecil yang sama sepertiku, setiap hari ia menziarahi sebuah makam. Karna penasaran, ku tanya dia, kenapa menziarahi makam tersebut.

“Ini makam ayah. Baru dua bulan lalu ayah meninggal, aku kesini ingin mengadukan penderitaan ibuku.” katanya.

“Memang ibumu kenapa nang?” tanyaku sambil membelai kepalanya.

” Semenjak ayah meninggal, ibu jadi sakit-sakitan. Ibu tak bisa berjualan lagi. ” jawab anak itu.

Polos sekali, bajunya terlalu lusuh tak terurus, badannya kurus kering. Iba aku melihatnya, hatiku memanglah mudah tersentuh. Maka tanpa pikir panjang, ku ajak dia menaiki mobilku untuk mengantarnya pulang. Aku ingin tahu keadaannya dan sebisa mungkin membantu. Rumah anak itu ternyata berada di desa lain. Ketika sampai di rumahnya, yang kecil lagi sederhana, di muka pintu, aku dipersilahkan masuk oleh seorang wanita berumur belasan. Aku masuk ke ruang tamu. Kuperhatikan ruang sekililing, terpampang foto seseorang berukuran besar. Aku tercekat, wajah di foto itu sangat mirip dengan orang yang berada di dalam mimpiku. Allahurabbi, petunjuk mimpiku datang lagi.

” Itulah foto ayah kami. Sebelum meninggal, beliau sakit-sakitan selama hampir dua tahun. ” terang wanita yang menyambutku tadi, dia mungkin kakak dari anak yang ku temui di pemakaman.

Setelah sedikit berbasa-basi, ku korek cerita mengenai ayah mereka. Aku merasa, ayah mereka inilah kunci dari puzzle-puzzle mimpiku.

” Ayah kami sudah sakit-sakitan sejak dua tahun sebelum meninggal. Sakit itu bermula ketika ayah dijadikan kambing hitam sebuah pencurian. Tanpa ampun beliau dipukuli warga, tulang rusuknya patah, dalam kepalanya gegar otak. Setelah kejadian tersebut, sehari-hari ayah terlihat murung. Beliau tak mau makan dan hanya sedikit tidur. Sampai kemudian beliau jatuh sakit, hingga ajal pun menjemputnya. ” wanita di depanku menjelaskan.

Dua tahun yang lalu, berarti baru saja aku pulang belajar dari Timur Tengah. Waktu itu memang sedang ramai-ramainya pemberitaan tentang begal dan maling.

” Kalau boleh tahu, di desa mana ayahmu di tuduh mencuri dan di pukuli. ” tanyaku.

” Di desa sebelah. Desa Windusabrang. Tempat dimana ayah dimakamkan sekarang. ” jawabnya.

Astaghfirullahal’adzim, ternyata pemukulan itu terjadi di desaku. Kalau kejadiannya dua tahun yang lalu, mungkin pencurian itu yang dimaksud. Masih segar dalam ingatan, waktu itu bulan Dzulhijjah, aku baru setengah bulan berada di Indonesia. Di berita nasional ramai dengan begal dan pencurian. Suatu malam, saat hari mendekati perayaan Idul Adha, aku mendapati seseorang yang mencurigakan. Saat itu dia berjalan pelan mendekati sebuah kandang sapi, ku lihat gelagatnya tak beres, akhirnya aku coba menegurnya. Bukannya menjawab, orang itu malah lari pontang-panting.

” Maling…!! Maling…!! ” spontan aku berteriak.

Para pemuda yang menjaga pos ronda mengejarnya, tak membutuhkan waktu lama, orang itu tertangkap dan warga pun memukulinya, ada yang menjambaknya dan menghantamkan ke aspal jalanan. Wajahnya dipenuhi darah, akhirnya karna tak tega, aku sendiri yang melerai pemukulan kejam itu. Kemudian ku serahkan yang dipukuli ke kantor polisi. Aku masih ingat betul kejadiannya. Ayah dari gadis remaja di depanku inikah yang dipukuli waktu itu? Aku mencoba memastikan.

” Apa ayahmu menceritakan kenapa dia dipukuli? Dituduh mencuri apakah ayahmu saat itu? ” tanyaku dengan dada sesak, takut menghadapi kenyataan bahwa akulah provokator dari pemukulan tersebut.

” Beliau dituduh mencuri sapi, padahal saat itu ayahku hanya ingin memulung, perkerjaannya memanglah pemulung. Ayahku bilang bahwa peristiwa pemukulan itu bukanlah salah siapa-siapa, ayah sendiri yang salah karna nekat memulung. Saat itu di mana-mana dilarang memulung, tapi karna saking membutuhkan uang untuk lebaran dan tak ada perkerjaan lain, ayah nekat memulung pada malam hari. Dan ketika dipergoki seseorang, ayah diteriaki maling karna secara tak sadar dia mendekati perternakan sapi, padahal waktu itu sedang mendekati Hari Raya Qurban, kecurigaan orang akan jadi masuk akal jika melihat apa yang diperbuat ayahku. ”

Aku menelan ludah, mataku basah. Akulah penyebab keluarga kecil ini menderita. Tertunduk aku menyesali kebodohanku. Saat di Tarim dulu, aku diwanti-wanti agar selalu menjaga prasangka baik kepada semua orang, tapi kemudian menjadi lena ketika di Tanah Air. Tak ku sangka, buntut dari prasangka buruk itu bisa sangat jauh. Mataku semakin merah, menahan air mata penyesalan akibat kenaifanku yang maha besar. Yang berpakaian compang-camping itu ternyata seorang pemulung. Duh Gusti, harus dengan taubat seperti apa aku bisa mendapatkan surgaku. Kini aku tak lagi kuasa menahan isak. Sedangkan wanita remaja di depanku ini, tengah terheran-heran menatapku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s