Rukun Lima Negeri Amarta

 

 

Akan ku kisahkan kepada kalian, negeriku yang makmur kaya raya, semua rakyatnya hidup tentram, tidur nyenyak setiap malamnya, adem ayem tak pernah ada yang berdemo. Nama negeriku ini Amarta, Negeri Kesatuan Republik Amarta. Jika kau diberi kesempatan berkunjung ke sini, aku jamin tak akan pernah kepalamu melihat orang memberi sedekah. Bukan karna dilarang, bukan karna penduduknya bakhil, tapi karna memang tak ada yang membutuhkan sedekah. Kaya bukan main negeriku ini, sampai jutaan orang miskin berbondong-bondong datang dari negara lain untuk mengemis. Lalu tak sampai satu minggu mereka kembali pulang, mendadak kaya karna omset mengemisnya melebihi omset bandar togel saat musim judi. Hal lain yang tak akan kau jumpai disini adalah Psikiater, perkerjaan Psikiater hanya ku tahu dari cerita temanku di Internet. Tentram bukan main negeriku ini, rakyatnya hidup senang tak ada beban. Jika ada orang gila karna dililit hutang, kirim saja ke negeri kami, biasanya tak lama disini mereka akan tiba-tiba menjadi waras. Banyak orang takjub dengan negeri kami, bertanya-tanya mencari penyebabnya. Mereka iri untuk menjadi negara yang makmur seperti Amarta. Ratusan penilitian dilakukan. Ribuan teori mereka paparkan. Tapi dari semua upaya itu, mengerucut hanya pada satu kesimpulan. Banyak orang mufakat bahwasanya kemakmuran Negeri kami adalah sumbangsih dari Pandhawa Lima dimasa lampau. Mereka saling bahu membahu membangun Amarta. Lima tokoh tadi ibarat tiang penyangga bangunan. Jika salah satu tiang saja patah, maka tidak usah menunggu angin, bangunan itu akan ambruk seketika. Akan ku jelaskan satu-persatu dari kelima tokoh yang ku maksud. Continue reading

Puzzle-Puzzle Mimpiku

Kata orang mimpi hanyalah bunga tidur. Hanya suatu proses dari kerja otak yang terus menerus beraktivitas, ia tak peduli sekalipun jasad sedang beristirahat. Namun mimpi tak selalu cocok dianggap “hanya” jika berkali-kali mendatangi kita. Seperti mimpiku yang rutin datang dengan cerita yang sama akhir-akhir ini. Seseorang berpakaian compang-camping itu senantiasa hadir dimimpiku. Dia mendatangi rumahku yang tiba-tiba menjadi istana megah tak ada duanya, tak pernah ku lihat ada istana semegah itu. Di dalamnya ada suguhan daging dan buah-buahan yang terlihat begitu segar nan lezat. Lalu tanpa canggung sedikit pun, si compang-camping tadi melahap semuanya sampai habis, sedangkan aku hanya bisa melihat tanpa turut serta makan bersamanya. Parahnya, setelah selesai makan, dia selalu nyelonong masuk ke kamar tidur. Di situ ada kasur bertumpuk-tumpuk rapi, lengkap dengan istriku yang menjelma bak bidadari. Aku sampai pangling, hampir tak mengenali istriku yang berubah cantik jelita. Tetapi pemandangan elok itu sirna seketika, tiba-tiba pintu kamar tertutup. Sontak aku berlari berusaha membuka paksa, siapa yang sabar melihat istrinya di dalam kamar bersama seorang tamu pria yang tak tahu malu. Ku gedor dari luar sebisaku. Pada saat aku panik begini, biasanya mimpi berakhir. Benar-benar celaka, mimpi menjengkelkan itu terus berulang. Begitu terbangun, aku langsung mengecek yang tidur di sampingku. Syukurlah, walau tak secantik di dalam mimpi, yang penting istriku masih pulas terlelap di sisiku. Sungguh pun demikian, aku sebenarnya tetap menghawatirkan sesuatu. Tentang mimpi itu, aku yakin bukanlah sembarang mimpi. Bisa jadi suatu pertanda. Bukankah Gusti Allah memerintah Nabi Ibrahim menyembelih putranya Nabi Ismail lewat mimpi. Lalu pertanda apakah mimpiku ini? Ku lawan dinginnya malam, menyempatkan diri bertahajud, meminta kejelasan kepada Sang Sutradara mimpi.

­­Jika diibaratkan sebuah penyakit kanker, maka diriku sudah kritis menjelang stadium akhir, mimpiku itu sudah sangat mengganggu. Aku tak bisa lama-lama membiarkannya bergentayangan setiap malam. Sampai diriku hafal muka orang dengan pakaian compang-camping itu. Aku harus melakukan sesuatu.

” Coba mas, tanyakan pada guru-guru njenengan, baik yang di pesantren, atau pun sewaktu belajar di timur tengah dulu. ” suatu saat istriku memberikan solusi. Continue reading

Hakikat Gila

“Wuuaaahhakbarrr!!” suara takbir dari shaf paling belakang itu masih terdengar.

Suara takbir yang asal-asalan, tidak sesuai dengan kaidah tajwid sama sekali. Suaranya paling nyaring terdengar di Mushola desa. Setelah takbir selalu di akhiri dengan teriakan tidak jelas atau berdecak terus-menerus. Orang-orang memanggilnya Toni. Jangan di kira Toni adalah nama asli. Toni merupakan kependekan bahasa Jawa dari waton muni yang berarti sembarangan bicara. Orang-orang memanggil demikian karna tiap waktu mulutnya tak berhenti meroceh, berguman, tertawa sendiri, bahkan seringkali memaki orang-orang di sekitar.

“Huahaha! Wirang aku wirang! Shalat kok imamnya mikirin perempuan. Guoblok!” di tengah shalat sekonyong-konyong Toni berteriak lantang.

“Lha para jamaahnya juga goblok. Seharusnya aku yang kalian pilih jadi imam.” lanjutnya tanpa beban.

Para jamaah resah, Kyai Maksum yang menjadi imam merah padam, tetapi anak-anak kecil yang di shaf belakang malah tertawa cekikikan. Suara Toni mengganggu benar. Konsentrasi para jamaah shalat maghrib kacau balau. Selesai shalat, dzikir yang seharusnya mereka baca menjadi ribut-ribut. Beberapa orang bergegas mencari Toni yang kabur terlebih dahulu sebelum salam. Mereka bermaksud memberikan Toni pelajaran. Aku sendiri memilih untuk diam tak ambil pusing. Biasanya orang-orang juga sepertiku yang sudah maklum dengan sikap Toni, tetapi kali ini beda urusan, mereka terlanjur berang karna yang menjadi korban kesewenangan mulut Toni adalah Kyai Maksum. Mereka tidak terima, Kyai Maksum sangat disegani masyarakat, beliau adalah panutan, begitu dihormatinya Kyai Maksum sampai memberi nama anak pun mereka meminta pendapat dari beliau, bahkan terkadang meminta petunjuk sebaiknya menghadap arah mana rumah mereka akan di bangun.

Tak beberapa lama ribut-ribut di masjid berlalu. Aku lalu membaca kumpulan wirid karangan Imam Haddad, wirid itu memang biasa kubaca setelah shalat maghrib. Sampai pertengahan wiridku, tiba-tiba saja si Toni masuk ke masjid. Dia berjalan cepat menuju tempat pengimaman. Menuju Kyai Maksum yang juga tengah sibuk bermunajat. Kemudian kulihat sebuah kejadian yang tak dinyana-nyana. Toni menghampiri Kyai Maksum kemudian menepuk-nepuk pundaknya sambil sekilas berbisik. Adegan selanjutnya Kyai Maksum mencium tangan Toni seumpama anak mencium tangan ibunya. Lalu Toni berdiri dan langsung melangkah keluar. Kejadiannya begitu singkat, aku terbengong. Tak bisa menahan penasaran lebih lama akhirnya kudekati Kyai Maksum.

“Kyai, apa yang tadi sebenarnya terjadi?” tanyaku tak sabar.

“Kenapa? Ada yang aneh?” sambil tersenyum Kyai Maksum balik bertanya.

Aku mengaguk.

“Aku hanya berterimakasih kepadanya. Apa yang di katakan Toni memang benar. Aku sempat memikirkan istriku yang sedang hamil saat shalat tadi.” kata Kyai Maksum.

Aku hanya melongo.

“Kau tau apa penyebab Toni menjadi gila?” lanjutnya kemudian.

Aku menggeleng.

“Allah buka hijab yang menutupi manusia biasa. Dia bisa melihat isi hati seseorang. Yang tak kuat dengan karunia ini bisa menjadi gila. Kau saksikan sendiri bagaimana Toni sering memaki orang lain tanpa sebab, dia tidak tahan melihat kepicikan hati manusia yang tersembunyi di balik penampilan kasatnya.” jelas Kyai Maksum.

“Dan yang paling penting, tahukah kau rahasia takbir yang seolah dibuat-buat, terlalu berlebihan dan keluar dari kaidah tajwid itu?” tanya beliau.

Lagi-lagi aku hanya menggeleng tak paham.

“Dia tak kuasa menahan rasa takjub, di hadapannya dibuka hijab bagaimana dahsyatnya makna takbir. Coba renungkan, saat kau shalat, kepada siapakah sebenarnya engkau menghadap? Allah Zat Yang Maha Besar, Sang Pencipta milyaran bintang beserta sistem tata suryanya, Pencipta milyaran galaksi, sedangkan kita manusia hanya menempati setitik debu dari ciptaanNya yang bernama Bumi. Tak terbayang bagaimana kerdilnya kita dihadapanNya. Itulah makna Allahu Akbar. Pernahkah selama ini kau bertafakur sedemikian rupa di dalam takbirmu?” pertanyaan Kyai Maksum menohok relung kesadaranku.

“Maka dari itu sebenarnya Tonilah yang lebih pantas menjadi imam sholat.” lanjut Kyai Maksum.

Aku terdiam beribu-ribu diam.

Gadis dengan senyuman aneh ( Part II )

Hari kedelapan MOS SMA 48. Hari ini adalah hari terakhir Masa Orientasi Siswa baru. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, acara penutupan MOS ini di mulai pada sore hari. Semua siswa baru dan senior sudah berkumpul di lapangan belakang sekolah. Beberapa petugas OSIS mengabsen mereka berdasarkan kelompok masing-masing. Kemudian para senior di bagi ke dalam kelompok siswa baru tersebut, mereka membaur, hal ini di maksudkan untuk menghilangkan rasa canggung dan takut yang mungkin terbentuk selama MOS berjalan.
Tetapi Billy belum juga membaur, dia masih mencari-cari kelompok si Gajah atau yang sekarang di ketahui nama panggilanya Yupi. Tak bisa di pungkiri kalau sekarang dia rindu dengan candaan atau bahkan senyuman aneh Yupi.
“Oi! kak Billy. Sini! Pasti cari Yupi ya? Sini dong.” Yupi berteriak manja.
Sontak para murid yang mendengar teriakan Yupi menengok kaget. Mereka tentu heran karna selama MOS Billy dan Yupi sering terlibat perselisihan. Yupi yang kemarin sengaja memancing-mancing amarah Billy sekarang tak canggung-canggung memanggil dan mengajak Billy bergabung dengan kelompoknya. Bahkan Billy yang pernah mendorong keras Yupi pun menanggapi ajakan Yupi dengan senyuman manis. Kemudian Billy berjalan ke arah kelompok Yupi dan duduk di sampingnya. Setelah itu mereka berdua terlibat pecakapan singkat tapi cukup jelas untuk menunjukan keakraban mereka. Anak-anak perempuan yang menaruh perasaan kepada Billy hanya tersenyum kecut, sedangkan yang lain masih terheran-heran dan mencoba menerka bagaimana mereka bisa seakrab ini.

Merasa sedang menjadi pusat perhatian Billy akhirnya hanya garuk-garuk kepala salah tingkah. Sedangkan Yupi diam-diam melirik ke arah Billy dengan tatapan yang tajam dan aneh, kemudian tersungging senyuman di wajahnya, senyuman paling aneh daripada yang biasa di perlihatkanya. Senyuman yang belum pernah di sunggingkan sebelumnya, benar-benar aneh, sangat aneh.

Senyuman Cindy Aulia.

Continue reading

Gadis dengan senyuman aneh ( Part I )

Terik matahari siang hari ini sangat menyegat, bersinar angkuh dan sombong, seolah tengah mengejek siswa-siswi baru di SMA 48 Jakarta yang tengah mengikuti Masa orientasi siswa. Mungkin matahari menertawakan ketidakberdayaan para peserta MOS itu, sekaligus mengintip galaknya kakak-kakak kelas SMA 48 yang seangkuh dirinya.

“Ayo cepetan woy! Monyet, Buaya, Kadal jangan ngobrol terus!” teriak Billy salah satu senior di SMA itu.

Dia memanggil sesuai nama yang tertera di dada setiap peserta MOS. Yang dipanggil Buaya berbisik menggerutu terus.

“Sialan, otot kaki gue hampir putus nih. Masak dari tadi disuruh jalan jongkok begini.

” Anak-anak lain pun menggerutu, sudah tiga putaran mereka jalan mengelilingi sekolah dengan posisi jongkok begitu.

“Ini hukuman untuk yang sudah di hari kelima MOS tapi masih terlambat masuk.” Billy menjawab gerutuan mereka.

Billy kemudian memperhatikan sekililingnya untuk memastikan semua murid menjalani hukumanya dengan baik.

“Woy Gajah! Jangan malas-malasan! Jalan yang cepet!” Billy kembali meneriaki juniornya.

Kali ini kepada seorang perempuan. Perempuan itu tenang saja, menolehpun tidak. Dia terlihat yang paling santai dan cuek diantara murid-murid baru lain. Billy memperhatikan raut mukanya, terlihat malas-malasan dan tidak menggubris omonganya.

“Woy lu dengerin nggak sih!” Billy berteriak sambil mendekat ke tempat si Gajah.

Si Gajah malah menengok heran, menatap mata Billy lekat-lekat seolah sedang menantangnya. Anak-anak lain pun berhenti sejenak, mereka tak ingin melewatkan adegan langka ini. Billy adalah ketua OSIS yang terkenal ketegasanya dan di segani oleh siswa senior maupun junior, sedangkan si Gajah adalah perempuan yang aneh, selalu menyediri dan misterius. Dari hari pertama MOS dia selalu terkena hukuman. Namun tampaknya hukuman demi hukuman tak membuat si Gajah jera. Mungkin karna hukumanya relatif ringan. Sudah menjadi rahasia umum kalau para siswa senior sangat toleran dalam memberikan hukuman kepada peserta MOS perempuan, apalagi yang berbadan mungil dengan paras cantik dan polos seperti si Gajah ini. Pantas sekarang anak-anak penasaran menunggu adegan selanjutnya.

Merasa di tunggu ketegasanya tiba-tiba Billy mendekati si Gajah dan mendorongnya dengan keras. Perempuan mungil yang dipanggil Gajah itupun otomatis terjengkang dan jatuh terjemerebab, doronganya terlalu keras. Anak-anak lain kaget karna tak menyangka Billy akan sekeras itu mendorong si Gajah.

“Woy, yang bener aja lu Bill. Keterlaluan lu, sama cewek juga.” salah satu temanya protes.

“Iya tuh, parah lu Bill. Sekarang di media masa lagi hangat-hangatnya tuh memberitakan kekerasan MOS di sekolah. Makanya kita dari kemarin nggak tegas-tegas amat” teman yang lainya semakin menyudutkan Billy.

Muka Billy merah padam, ingin membela diri tapi posisi dia sedang tidak menguntungkan. Sementara Billy salah tingkah si Gajah sudah berhasil menguasai emosinya.

“Sudah-sudah kak, saya yang salah kok.” kata si Gajah yang malah membuat Billy semakin malu.

Kemudian dengan santainya si Gajah kembali jalan jongkok. Billy kembali memperhatikan tingkah lakunya, tetapi kali ini ia tertangkap basah, si Gajah memergokinya. Tanpa diduga si Gajah tersenyum kecil, senyuman teraneh yang pernah di lihatnya. Billy berusaha membalas senyuman itu walapun hatinya pahit. Untuk kali pertamanya sang ketua OSIS yang berwibawa di permalukan dan di buat salah tingkah. Bukan hanya itu, bahkan Billy sempat di buat kehilangan kendali sehingga tak bisa berpikir jernih dan bertindak konyol.

Si Gajah yang misterius.

Continue reading

Good bye Tiki-Taka, This is Total Football

Karna pesta sepakbola dunia sedang hangat-hangatnya kali ini saya akan mencoba meriview salah satu pertandingan yang paling mengejutkan di 2014. Oh ya sebelumnya kalo mau copas silahkan sertakan sumber linknya, ini artikel 100% karya saya murni, so hargailah penulis dengan menyertakan link sumber. Silahkan di baca 😀

===============================================================

Pertandingan ketiga piala dunia 2014 , Brazil akhirnya menyajikan reuni besar antara dua negara yang mempunyai akademi sepakbola terbaik dunia, Belanda vs Spanyol. Pertemuan ini juga sekaligus menghadirkan sensitivitas tinggi bagi penonton di stadion Arena Fonte Nova, Diego Costa yang sebelumnya telah memilih mengkhianati Brazil dengan memakai jersey Spanyol di negaranya sendiri membuat rakyat Brazil saat ini lebih suka melupakan kekalahan timnas mereka oleh Belanda di 2010 . Mereka memilih berbalik mendukung Belanda, terbukti di menit-menit awal selalu terdengar suara “Booo..” setiap kali Diego Costa memegang bola. Namun sorakan para fans tak berpengaruh banyak, Diego Costa tetaplah Diego Costa, dia beberapa kali berhasil menebar ancaman di barisan belakang Belanda. Di awal laga timnas matador si penyandang gelar juara bertahan menunjukan tajinya. Para gelandang terbaik di El Clasico seperti Xavi,Xabi dan Iniesta memegang kendali penuh dengan gaya Tiki-Takanya. Klimaks permainan indah Spanyol terjadi dimenit 26, saat itu penonton yang mayoritas pendukung team De Oranje menjadi terdiam dan senyap seketika.

Diego Costa terjatuh di kotak terlarang dan wasit memutuskan penalti untuk Spanyol. Xabi Alonso yang ditunjuk sebagai Algojo penalti mengekskusinya dengan baik, Spanyol unggul 1-0.

Setelah itu pelan-pelan De Oranje mulai keluar dari tekanan. Roben mulai menunjukan skillnya, De Jong dan Daley Blind bergantian meneror lini belakang Spanyol. Setelah gol pertama Xabi Alonso pertandingan berjalan menarik, kedua tim bermain lebih terbuka dan saling menebar ancaman.

Sampai dua menit tersisa Spanyol masih berharap menutup babak pertama dengan keunggulan di pihak mereka. Namun harapan itu sirna di menit 44, gol cantik Robin Van Persie membuat penonton di stadion Arena Fonte Nova bergemuruh. Umpan silang Daley Blind dari tengah lapangan disambut sempurna oleh Van Persie. Gol ini menjadi penutup paruh pertama pertandingan, para pemain Spanyol tertunduk lesu dan menyesali kecerobohan mereka mengawal Van Persie. Penguasaan bola yang mencapai 69% di babak pertama menjadi sia-sia.

Heading van persie yang mematahkan semangan matador-matador spanyol
Heading van persie yang mematahkan semangat matador-matador spanyol

 

*** Continue reading

Air mata yang tak tersampaikan

Gambar

Berawal dari rasa penasaran terhadap makna lagu “Temodemo no namida”. Saya mencoba membuat cerpennya. Bagaimana pendapat kalian? Silahkan di baca dulu cerpen saya 😀 .

Air mata yang tak tersampaikan.

” Dasar hantu gila!! Seharusnya kau segera menuntut balas atas kematianmu. Kau membuat aib saja di dunia kami. Mencintai seorang manusia adalah pantangan bagi kami! ”

Masa bodoh, Aku benar-benar tidak peduli sekarang. Kata mereka baru kejadian kali ini ada seorang hantu yang mencintai manusia. Aku memang masih penghuni baru di dunia ini. Tapi apa dayaku melawan rasa cinta? Cinta kan gila? Jadi sewajarnya aku sekarang di sebut hantu gila. Mereka tidak salah. Aku memang aneh. Aku mencintai orang yang telah menabraku sehingga aku mati!

Saat malam kematianku benar-benar masih hangat dipikiran. Malam itu rintik-rintik hujan mengguyur jalanan. Aku yang tergesa-gesa pulang tak sabar menunggu hujan reda. Sampai kemudian terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Sebuah mobil berkecepatan tinggi sekonyong-konyong datang dan menabraku. Lalu semuanya remang. Seorang laki-laki lari kearahku, ia turun dari mobil tadi. Kemudian langsung memeluku, memandangiku dengan mata nanar. Aku tersenyum, ternyata dia hadi!! Hadi kakak kelasku yang selama ini menjadi idaman semua cewek di kelas. Setelah itu sambil terisak diciumnya keningku. Aku sempat mendengar bisikan cintanya sebelum ruhku keluar dari tubuh, sebelum ajal menutup kisah hidup ini. Sebelum semua warna hanya terlihat satu! Warna perak yang kemudian memisahkan dunia kami. Aku lalu berdiri di sampingnya. Hadi terlihat masih memeluk tubuhku. Masih terisak dan merancau menyesali kejadian ini. Suasananya begitu haru, rintik-rintik hujanpun masih terus mengguyur tubuhnya dan bangkai tubuhku.

~~Hujan rintik-rintik yang mulai turun, akupun menutup layar kisah ini. Bagai menurunkan layar warna perak itulah cinta pertama diriku~~ Continue reading

Ya Khumairo’

Image

Maghrib yg di nanti telah tiba

Mega merah nampak mengggelanyut manja dilangit senja

Suara muadzin yg bersahut- sahutan terdengar merdu di telinga

Berbeda dengan suasana sepi yang biasa kurasakan dirumah.Sekarang ini aku tengah duduk melingkar bersama santri lainya menikmati buka puasa.Bulan ramadhan kali ini aku memang ingin merasakan suasana yang lain.Aku ingin menghilangkan rasa jenuhku pada gemerlap dunia,sejenak beristirahat melupakanya.Pesantren menjadi pilihanku.Bukan murni pilihanku memang,ada hal lain yang membuatku ingin kesini,”kamu”. Ya, sebelumnya secara iseng Billy saudara sepupuku pernah kuminta untuk mencarikanku pacar.Dia berbicara banyak tentangmu.Katanya dia punya teman dipesantren ini.Lutfiana namamu,kamu tinggal di pesantren putri sebelah pesantren putra yang aku tempati sekarang.Aku tau kamu dari facebook,kulihat foto-foto di album profilmu.Parasmu cantik memang,macam kecantikan eksotis ala perempuan-perempuan turki yang sering kulihat di televisi.Lewat pesan facebook aku sempat bertanya apakah kamu mempunyai darah timur tengah? “Bukan ya.. Aku gadis jawa tulen kok” katamu waktu itu. Kemudian aku bertanya lebih jauh tentang dirimu,ternyata kamu asyik juga diajak ngobrol.Rasa ketertarikanku padamu kian menjadi.Seperti namamu Lutfiana yang berarti kelembutan,aku berharap semoga peringaimu pun begitu.Aku ingin mengenalmu lebih jauh,itulah sebenarnya alasan aku jadi santri selama bulan ramadhan disini.”santri pasan” namanya. Continue reading