Hakikat Gila

“Wuuaaahhakbarrr!!” suara takbir dari shaf paling belakang itu masih terdengar.

Suara takbir yang asal-asalan, tidak sesuai dengan kaidah tajwid sama sekali. Suaranya paling nyaring terdengar di Mushola desa. Setelah takbir selalu di akhiri dengan teriakan tidak jelas atau berdecak terus-menerus. Orang-orang memanggilnya Toni. Jangan di kira Toni adalah nama asli. Toni merupakan kependekan bahasa Jawa dari waton muni yang berarti sembarangan bicara. Orang-orang memanggil demikian karna tiap waktu mulutnya tak berhenti meroceh, berguman, tertawa sendiri, bahkan seringkali memaki orang-orang di sekitar.

“Huahaha! Wirang aku wirang! Shalat kok imamnya mikirin perempuan. Guoblok!” di tengah shalat sekonyong-konyong Toni berteriak lantang.

“Lha para jamaahnya juga goblok. Seharusnya aku yang kalian pilih jadi imam.” lanjutnya tanpa beban.

Para jamaah resah, Kyai Maksum yang menjadi imam merah padam, tetapi anak-anak kecil yang di shaf belakang malah tertawa cekikikan. Suara Toni mengganggu benar. Konsentrasi para jamaah shalat maghrib kacau balau. Selesai shalat, dzikir yang seharusnya mereka baca menjadi ribut-ribut. Beberapa orang bergegas mencari Toni yang kabur terlebih dahulu sebelum salam. Mereka bermaksud memberikan Toni pelajaran. Aku sendiri memilih untuk diam tak ambil pusing. Biasanya orang-orang juga sepertiku yang sudah maklum dengan sikap Toni, tetapi kali ini beda urusan, mereka terlanjur berang karna yang menjadi korban kesewenangan mulut Toni adalah Kyai Maksum. Mereka tidak terima, Kyai Maksum sangat disegani masyarakat, beliau adalah panutan, begitu dihormatinya Kyai Maksum sampai memberi nama anak pun mereka meminta pendapat dari beliau, bahkan terkadang meminta petunjuk sebaiknya menghadap arah mana rumah mereka akan di bangun.

Tak beberapa lama ribut-ribut di masjid berlalu. Aku lalu membaca kumpulan wirid karangan Imam Haddad, wirid itu memang biasa kubaca setelah shalat maghrib. Sampai pertengahan wiridku, tiba-tiba saja si Toni masuk ke masjid. Dia berjalan cepat menuju tempat pengimaman. Menuju Kyai Maksum yang juga tengah sibuk bermunajat. Kemudian kulihat sebuah kejadian yang tak dinyana-nyana. Toni menghampiri Kyai Maksum kemudian menepuk-nepuk pundaknya sambil sekilas berbisik. Adegan selanjutnya Kyai Maksum mencium tangan Toni seumpama anak mencium tangan ibunya. Lalu Toni berdiri dan langsung melangkah keluar. Kejadiannya begitu singkat, aku terbengong. Tak bisa menahan penasaran lebih lama akhirnya kudekati Kyai Maksum.

“Kyai, apa yang tadi sebenarnya terjadi?” tanyaku tak sabar.

“Kenapa? Ada yang aneh?” sambil tersenyum Kyai Maksum balik bertanya.

Aku mengaguk.

“Aku hanya berterimakasih kepadanya. Apa yang di katakan Toni memang benar. Aku sempat memikirkan istriku yang sedang hamil saat shalat tadi.” kata Kyai Maksum.

Aku hanya melongo.

“Kau tau apa penyebab Toni menjadi gila?” lanjutnya kemudian.

Aku menggeleng.

“Allah buka hijab yang menutupi manusia biasa. Dia bisa melihat isi hati seseorang. Yang tak kuat dengan karunia ini bisa menjadi gila. Kau saksikan sendiri bagaimana Toni sering memaki orang lain tanpa sebab, dia tidak tahan melihat kepicikan hati manusia yang tersembunyi di balik penampilan kasatnya.” jelas Kyai Maksum.

“Dan yang paling penting, tahukah kau rahasia takbir yang seolah dibuat-buat, terlalu berlebihan dan keluar dari kaidah tajwid itu?” tanya beliau.

Lagi-lagi aku hanya menggeleng tak paham.

“Dia tak kuasa menahan rasa takjub, di hadapannya dibuka hijab bagaimana dahsyatnya makna takbir. Coba renungkan, saat kau shalat, kepada siapakah sebenarnya engkau menghadap? Allah Zat Yang Maha Besar, Sang Pencipta milyaran bintang beserta sistem tata suryanya, Pencipta milyaran galaksi, sedangkan kita manusia hanya menempati setitik debu dari ciptaanNya yang bernama Bumi. Tak terbayang bagaimana kerdilnya kita dihadapanNya. Itulah makna Allahu Akbar. Pernahkah selama ini kau bertafakur sedemikian rupa di dalam takbirmu?” pertanyaan Kyai Maksum menohok relung kesadaranku.

“Maka dari itu sebenarnya Tonilah yang lebih pantas menjadi imam sholat.” lanjut Kyai Maksum.

Aku terdiam beribu-ribu diam.

Advertisements