Puzzle-Puzzle Mimpiku

http://www.dreamstime.com/stock-photo-puzzle-image23135590

Kata orang mimpi hanyalah bunga tidur. Hanya suatu proses dari kerja otak yang terus menerus beraktivitas, ia tak peduli sekalipun jasad sedang beristirahat. Namun mimpi tak selalu cocok dianggap “hanya” jika berkali-kali mendatangi kita. Seperti mimpiku yang rutin datang dengan cerita yang sama akhir-akhir ini. Seseorang berpakaian compang-camping itu senantiasa hadir dimimpiku. Dia mendatangi rumahku yang tiba-tiba menjadi istana megah tak ada duanya, tak pernah ku lihat ada istana semegah itu. Di dalamnya ada suguhan daging dan buah-buahan yang terlihat begitu segar nan lezat. Lalu tanpa canggung sedikit pun, si compang-camping tadi melahap semuanya sampai habis, sedangkan aku hanya bisa melihat tanpa turut serta makan bersamanya. Parahnya, setelah selesai makan, dia selalu nyelonong masuk ke kamar tidur. Di situ ada kasur bertumpuk-tumpuk rapi, lengkap dengan istriku yang menjelma bak bidadari. Aku sampai pangling, hampir tak mengenali istriku yang berubah cantik jelita. Tetapi pemandangan elok itu sirna seketika, tiba-tiba pintu kamar tertutup. Sontak aku berlari berusaha membuka paksa, siapa yang sabar melihat istrinya di dalam kamar bersama seorang tamu pria yang tak tahu malu. Ku gedor dari luar sebisaku. Pada saat aku panik begini, biasanya mimpi berakhir. Benar-benar celaka, mimpi menjengkelkan itu terus berulang. Begitu terbangun, aku langsung mengecek yang tidur di sampingku. Syukurlah, walau tak secantik di dalam mimpi, yang penting istriku masih pulas terlelap di sisiku. Sungguh pun demikian, aku sebenarnya tetap menghawatirkan sesuatu. Tentang mimpi itu, aku yakin bukanlah sembarang mimpi. Bisa jadi suatu pertanda. Bukankah Gusti Allah memerintah Nabi Ibrahim menyembelih putranya Nabi Ismail lewat mimpi. Lalu pertanda apakah mimpiku ini? Ku lawan dinginnya malam, menyempatkan diri bertahajud, meminta kejelasan kepada Sang Sutradara mimpi.

­­Jika diibaratkan sebuah penyakit kanker, maka diriku sudah kritis menjelang stadium akhir, mimpiku itu sudah sangat mengganggu. Aku tak bisa lama-lama membiarkannya bergentayangan setiap malam. Sampai diriku hafal muka orang dengan pakaian compang-camping itu. Aku harus melakukan sesuatu.

” Coba mas, tanyakan pada guru-guru njenengan, baik yang di pesantren, atau pun sewaktu belajar di timur tengah dulu. ” suatu saat istriku memberikan solusi. Continue reading

Advertisements